Double-check

Di era yang semuanya serba cepat seperti sekarang ini, informasi mengalir tanpa ada sekat, baik itu informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan, informasi terpotong-potong atau kadang sekadar fitnah belaka. Keabsahan informasi seringnya diabaikan, karena terkadang kita lebih fokus untuk memberikan komentar, agar terkesan menjadi individu terkini, dan ujungnya jadi tukang fitnah.

 

That’s why, we need to double-check! For our own safety, at least.

Beberapa minggu kemarin sempat heboh berita tentang putusan hakim PN Palembang Parlas Nababan yang mementahkan gugatan pemerintah terkait isu kebakaran lahan. Kita semua sontak panik, meme bermunculan sana sini, haters berkeluaran dari sarangnya, semua umbar komentar (yang pada akhirnya ternyata jadi fitnah)

 

parlas1

 

Pertama, satu hal yang orang-orang tidak tahu (atau tahu nya belakangan) adalah bahwa kasus ini merupakan kasus pada tahun 2014. Masih belum hilang di ingatan bagaimana parah dan tersiksanya bencana asap tahun 2015 yang sampai berbulan-bulan menyerang satu pulau. Isu ini pun menjadi isu panas saat hakim memenangkan perusahaan pembakar lahan.

Memang, ini bukan hal yang prinsip dalam masalah ini, karena toh, mau tahun 2014 atau tahun 2015, masyarakat sama-sama tersiksanya karena asap. Ini benar. Namun akan lebih baik kalau kita tahu asas-asas masalahnya, jadi kita tidak sembarang melontarkan komentar.

Dan kita lanjut ke poin nomor 2. Indonesia merupakan negara hukum, jadi ada aturan-aturan yang menentukan menang kalahnya satu pihak di mata hukum. Persoalan pembakaran lahan yang sedang dibahas ini adalah salah satu persoalan hukum dengan pemerintah diwakili kementrian lingkungan hidup sebagai penggugat, dan si perusahaan pembakar lahan sebagai tergugat. Singkatnya, dalam skema penyelesaian masalah di mata hukum, ada penggugat, tergugat, pengacara, jaksa dan pada akhirnya sang hakim.

Akhir cerita, kasus ini dimenangkan perusahaan pembakar asap. Kita semua gak terima, tapi gak banyak yang tahu (atau mau mencari tahu) apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata penggugat berpegang pada pasal-pasal yang lebih fokus kepada kerusakan lahan, bukan ke pencemaran lingkungan. Terang saja akhirnya hakim mengutip ;

“tidak terjadi kerusakan lahan di bekas lahan yang terbakar, seperti yang dituduhkan penggugat, terkait misalnya PH tanah dan lahan itu tidak seluruhnya gambut. Kesimpulannya pasca kebakaran tidak terjadi kerusakan lahan,”

karena memang tidak terjadi kerusakan lahan pasca pembakaran. Lahannya gak kenapa-kenapa, orangnya yang kena asap yang megap-megap. Dalam hal ini, kita harusnya protes dan buat meme ke pemerintah karena gak cerdas dan teliti dalam perkara hukum. Selain itu, pemerintah terkesan teledor dan mengada-ada karena mengajukan tuntutan fantastis sebesar Rp 7,9 triliun yang dasar hukumnya masih belum jelas, hanya karena bernafsu ingin membuat jera para pembakar lahan.

Sekali lagi, ini persoalan hukum. Pemerintah punya kesempatan membawa perusahaan pembakar lahan ke ranah hukum, namun gugatan yang dilemparkan masih bias, dengan tuntutan yang mengada-ada dan bukti yang kurang. Pemerintah akhirnya mengaku kalah ;

Tim penasihat hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui, bahwa bukti-bukti yang dilayangkan ke pengadilan untuk menjerat PT. Bumi Mekar Hijau dalam kasus pembakaran hutan secara perdata terbilang lemah, kurang kuat. Hal itulah, yang membuat majelis hakim yang diketuai Parlas Nababan mengandaskan gugatan.

That’s why, we need to double-check!

Hakim gak salah, karena penggugat ternyata memang gak siap dengan ‘senjata’-nya, tapi satu Indonesia terlanjur udah jadi tukang fitnah, apa mau di kata?.

Gw udah agak paham pattern-nya, kalau ada isu kontroversial, media sekarang cenderung fokus ke hal-hal yang menjadi bahan omongan, dan biasanya membiaskan fakta. Dalam kasus ini, gw bukan pembela si perusahaan pembakar lahan. Kalau ada yang mau disalahin dan mau dibuat meme-meme-an, harusnya semua itu ditujukan ke pemerintah sebagai pengguggat yang kurang teliti dan terkesan gak siap bertanding di ranah hukum.

Poin nomor 3. Kalau kita mau melihat lagi pernyataan si hakim di atas, dan melihat pesan-pesan yang disampaikan meme;

Membakar hutan tidak merusak lingkungan hidup karena masih bisa ditanami lagi; Membakar hakim tidak merusak sistem peradilan karena masih bisa pilih hakim baru lagi.

Di sini sebenarnya jokes back on to the haters. Kalau gugatan pemerintah lebih fokus pada fungsi lahan yang habis dibakar, hakim kayaknya sudah bertindak benar, karena memang gak ada masalah pada lahan yang sudah dibakar. Yang jadi masalah kan asap yang ditimbulkan oleh pembakaran lahan itu sendiri. Gw gak paham apa sudah ada pasal yang berkaitan dengan efek asap yang ditimbulkan oleh pembakaran lahan ini atau belum.

Kalau ternyata sudah ada, betapa bodohnya pemerintah  menggunakan pasal yang salah untuk menjerat si perusahaan pembakar lahan. Jelas aja hakimnya memenangkan si tergugat. Kalau ternyata pasalnya belum ada, shame on the legislative, karena mereka yang buat undang-undang. Kalau udah kayak gini ya gak bisa diharepin, target RUU 2015 aja gak tercapai.

Prestasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam menyelesaikan Undang-Undang (UU) masih belum menggembirakan. Dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2015, DPR hanya dapat mengesahkan sebanyak 17 UU dari rencana sebanyak 39 Rancangan Undang-Undang (RUU).

Data yang dimiliki KONTAN menunjukkan, dari 17 UU yang telah disahkan tersebut hanya tiga UU yang berasal dari inisiatif DPR. Selebihnya merupakan UU komulatif terbuka dari pemerintah

**

Ada kasus yang fresh from the oven nih. Soal paspampres yang dikabarkan terlibat aksi pukul dengan Camat Tanah Abang dan sejumlah anggota satpol PP.

As usual, media lebih menonjolkan sisi kontroversinya lebih dahulu. Kita pun ‘terganggu’. Apalagi dalam waktu bersamaan ada berita penangkapan paspampres yang kedapatan membawa narkotik di Bandara Medan. Media sosial rame, satu kesatuan pasukan dimaki-maki.

Beberapa jam kemudian, media biasanya baru mengabarkan kronologinya, karena mereka memang butuh waktu untuk klarifikasi. Dan ternyata, si paspampres ini yang malah nyaris jadi korban pemukulan seperti diberitakan di sini;

Tidak lama setelah itu, salah satu pedagang yang gerobaknya disita satpol PP menendang kardus berisi botol air mineral di depan kaki Hidayatullah dan berusaha mencekiknya.

Dari pengakuannya, justru Serda TP yang berjarak sekitar tujuh meter dari Hidayatullah berusaha menghentikan pedagang tersebut. Namun, saat Serda TP berhasil memisahkan pedagang dengan Hidayatullah, Serda TP dihalangi anggota satpol PP dan diminta masuk lagi ke kantor Hidayatullah. Di dalam, Serda TP tiba-tiba dipukul di bagian kepala oleh salah satu oknum satpol PP.

“Pada saat itulah, Serda TP balas memukul oknum satpol PP dan mereka yang berusaha memukulinya. Karena terdesak, Serda TP mengeluarkan airsoft gun dan memukulkannya ke salah satu (oknum) satpol PP,” ujar Andika.

Dan satu Indonesia pun terlanjur jadi tukang gunjing.

That’s why, we need to double-check!

 

**

Ini cuma beberapa contoh doang sih. Kalau dilihat-lihat, orang zaman sekarang ntar dihisabnya pasti banyak hitung-hitungan dosa fitnahnya deh. That’s why, we need to double-check! Karena fitnah lebih kejam daripada tidak memfitnah!! Waspadalah!! Waspadalah!!!

Advertisements

I’m not a fan of a funeral

Gw punya satu kebiasaan yang beberapa tahun ini baru sadar kalau itu jadi kebiasaan (*loh?). Mohon maaf sebelumnya, tapi gw sangat amat merasa tidak nyaman kalau berada dalam satu ruangan dengan jenazah. Gong baru ngeh-nya sih  pas 1 atau 2 tahun lalu saat sempat melayat salah satu petinggi kantor yang meninggal.

Almarhum sempat menempati jabatan yang cukup penting dulunya saat pertama kali pabrik mulai produksi, namun belakangan dipindahkan ke seksi yang berbeda. Gw lumayan sering ketemu di kantor, kadang-kadang almarhum minta hasil rapat produksi ke gw.

Almarhum sempat dirawat di rumah sakit. Sore sebelum almarhum meninggal, orang-orang kantor janjian bareng-bareng besuk ke rumah sakit, tapi gw berhalangan besuk saat itu. Tengah malamnya dapat kabar almarhum meninggal. Kita satu kantor pada syok dong, karena sorenya masih bisa diajak ngobrol. Besoknya satu kantor ngelayat ke rumah almarhum.

Nah, karena kita orang-orang satu kantor termasuk orang-orang yang cukup dekat dengan almarhum, pihak keluarga almarhum mempersilakan rombongan kami untuk duduk di dalam rumah. Sebagian pelayat ada yang duduk di luar rumah di tempat yang sudah disediakan.

Pada saat orang-orang kantor mulai masuk satu-persatu ke dalam rumah tempat jenazah disemayamkan, gw refleks untuk berhenti dan terpaku di depan pintu masuk. Beberapa detik kemudian akhirnya kesadaran gw balik, dan memutuskan untuk langsung duduk di sekitar pintu masuk saja, dan mempersilahkan tamu-tamu yang antri di belakang gw untuk masuk.

Gw agak sulit menggambarkan apa yang sebenarnya gw rasakan saat berada dekat dengan jenazah. Ada aura yang sangat kuat yang kayaknya berputar-putar di sekitar jenazah. Bukan perasaan ke takut hantu atau semacamnya juga sih.

Yang pertama, saat melihat jenazah, gw itu kayak melihat masa depan tiap manusia. Yang ada di gambaran kepala gw adalah, arwah orang yang sudah meninggal itu duduk/berdiri di atas jasadnya sendiri pada saat disemayamkan dan menunjuk ke orang-orang masih hidup yang lagi melayat dia, sembari ingin menyampaikan kalau suatu saat, tiap orang bakal dapat giliran yang sama. Yang kedua, ada perasaan seperti left behind. Apalagi kalau orang yang meninggal itu adalah orang yang cukup dekat dengan kita. Yang ketiga, kayak ada perasaan kosong di dalam pikiran, yang sangat sulit untuk dijelaskan. Pokoknya aneh deh. Sepanjang melayat di rumah duka, sebisa mungkin gw mengalihkan pandangan dari keranda, bahkan sampai jenazah dikuburkan.

Pada saat jenazah mau disolatkan di mesjid dekat rumah duka, kita serombongan pada ikut ke mesjid karena sekalian mau solat zuhur. Saat solat zuhur, keranda diletakkan tepat di tengah-tengah mesjid. Mesjid ini cukup besar, dan jamaah solat zuhur emang biasanya gak terlalu ramai. Keberadaan keranda jenazah di tengah-tengah mesjid pun sangat-sangat terasa gamblang. Walaupun gw sekuat tenaga mengalihkan pandangan dari keranda, sesekali kadang gak sengaja melihat juga, dan perasaan gak nyaman pun langsung muncul ke permukaan.

 

**

 

Siang ini, seperti biasa gw berangkat ke mesjid untuk salat jum’at. Di mesjid ini, gw punya tempat parkir favorit di samping mesjid. Saat gw mau parkir di tempat biasa, gw dialihkan untuk parkir di tempat yang lain. Gw penasaran dan bertanya-tanya di dalam hati kenapa gak dibolehin parkir di tempat biasa.

Jrengg!!! Kemudian gw liat bendera kuning berkibar-kibar saat parkir di sebrang mesjid. Aduh, perasaan gw langsung gak enak. Gw kemudian masuk ke dalam mesjid dan langsung bergerilya melihat sekeliling mesjid, dan *sigh* ada keranda di bagian samping mesjid, di dekat pintu masuk. Gw langsung ngacir ke tempat pengambilan wudhu. Gw langsung berasa deg-degan, dan saat wudhu pun, gw malah gemeteran gak jelas. Biasanya, gw ambil tempat salat di bagian depan, di dekat pintu masuk. Siang itu, gw ngacir ambil tempat solat di area yang bersebrangan dengan pintu masuk, menjauh dari keranda.

*Oiya, buat yang belum tau, di dalam islam, sebelum dikuburkan, jenazah biasanya disolatkan dulu, biasanya sih di mesjid/musola/surau terdekat. Jadi, rencananya , sehabis solat jumat, jenazah tersebut akan disolatkan.

 

Setelah merunut lagi ke belakang, ternyata perasaan super duper tidak nyaman ini sudah dirasakan sejak kecil. Pada saat kakek dari mamak meninggal, keluarga-keluarga terdekat harusnya berada dekat dengan jenazah saat disemayamkan di rumah, tapi gw malah ngacir ke rumah tetangga, berdalih di dalam rumah sudah sesak. Selain itu, dulu sempat melayat ke rumah teman kuliah saat ibunya meninggal, dan gw milih untuk stay dong di luar rumah duka. Saat jenazah mau dipindahkan dari dalam rumah ke ambulans, gw langsung refleks memalingkan kepala, entah ke atas atau ke samping, sebisa mungkin gak melihat ke arah keranda. The list goes on, pokoknya kalau tiap melayat, pasti ada perasaan tidak nyaman yang bergantungan di hati dan pikiran.

 

Ada yang punya pengalaman/perasaan serupa?

😦

My dad is a racist… *sigh

Selain film Perang Bintang ( 😛 ), di Indonesia lagi rame banget sama film komedi Indonesia besutan pegiat Stand up, ada Single dan Ngenest. Karena satu dan lain hal, gw pribadi jarang banget nonton film di Bioskop, apalagi nonton film Indonesia, terakhir sih sempat nonton Pendekar Tongkat Emas dan Supernova, karena kayaknya dulu film ini hits banget. Main ke bioskop paling kalau ada bener2 film yg diincar. Dannn, film Single dan Ngenest ini bukan film yg gw tungguin.

Pengguna media sosial rame banget yang review kalau film ini bagus, kocak dan fresh. Salut buat Ernest sih sebenernya, karena dia orang baru di dunia film, dan dateng-dateng langsung nulis skenario plus nge-direct. Sekelas Joko anwar aja sampai ngasih apresiasi. Kalau si Raditya kan emang udah pemain lama. But still, tetap gak berniat nonton sih. Nothing personal.

2016-01-06_225545

 

 

Kalau dari postingannya maya soal film ini, Ngenest bercerita soal perjalanan hidup pribadinya si Ernest sendiri, seputar soal tumbuh sebagai minoritas, race bullying, persahabatan, dan a bit romance.

rBxVd1WR.jpg
picture from @ernestprakasa ‘s twitter account

 

Di awal kemunculannya di jagat stand up, Ernest ini emang cukup terkenal dengan racist jokes. Gw sempat sekilas nonton salah satu show-nya, dan emang bener sih, materinya cukup kental sama ‘cina’, dan kadang-kadang agak frontal juga, tapi emang ada benarnya juga.

Topik soal ras emang masih sensitif kayaknya di Indonesia. Di kota-kota besar mungkin gap ini sudah mulai meredup karena orang-orang sudah terkoneksi antar ras. Kerja di satu kantor aja rasnya bisa dari Sabang sampai Merauke.

Membahas ‘ras tiongkok’, masih banyak orang-orang di kota kecil yang kayaknya masih anti sama ras yang satu ini, dan alasannya pun beragam. Gw salah satu orang di kota kecil di sumatera yang berkesempatan menetap di kota besar dan berkesempatan terkoneksi dengan beberapa teman ras tiongkok, so i can see the perspective differentiation.

Ada banyak stereotype yang berkembang soal ras tiongkok ini di masyarakat, dan sedihnya gak sedikit yang bernada negatif. I’m not gonna address one, because it’s awful. Sebagai orang yang dikasih kesempatan bersekolah cukup tinggi, gw merasa gw harus punya pemikiran yang terdidik dan logis pula. Melabeli ras tertentu dan melabeli orang dengan ras tertentu sangat-sangat tidak logis.

 

Habis baca postingannya si Maya kemarin, pagi ini gw langsung dikasih cobaan. Pagi-pagi dapat telpon dari ayah, seperti biasa nanyain kabar, sebelum nutup telpon, gw sempat discuss soal masalah cukup penting berkaitan dengan pabrik tempat gw bekerja sebelumnya. Diskusi cukup lama dan sampai pada titik menyerempet ke teman sekamar gw pas masih kerja di pabrik dulu. Oiya, selama kerja di pabrik sebelumnya, gw tinggal sekamar dengan orang tiongkok selama 2 tahun.

Tanpa tedeng aling-aling, ayah gw menyerang teman gw ini secara personal karena ras dia. Gw langsung kaget, dan langsung berusaha keras menarik topik kembali untuk fokus ke masalah gw. Sebelum menutup telepon pun, si ayah masih beberapa kali nyerang ras temen gw. *sigh

Setelah nutup telepon, gw agak terbengong sebentar, dan beberapa menit kemudian, setelah pergelutan batin cukup panjang, gw ngirim sms ke ayah gw. Isinya mengingatkan ayah gw kalau gak baik berprasangka buruk terhadap orang dengan ras tertentu, ataupun terhadap ras itu sendiri. Gw sempat tambahin kalau gw berkesempatan ngerasain bangun tidur dan tidur lagi sama orang tiongkok, dan saat ini pun dekat dengan beberapa teman tiongkok, dan tuduhan-tuduhan berbau ras itu sangat tidak adil.

Si ayah pun kemudian membalas sms mengiyakan isi sms gw sebelumnya, tapi di akhir2 tetap berkeyakinan sama pandangan dia soal ras tiongkok. Gw udah gak bisa apa-apa, kayak yang pernah gw bilang di Path;

“I can’t make you think the way I think, you can’t make me think the way you think. Ambush each other’s way of thinking is awful”.

Gw pun gak berniat melanjutkan perbincangan.

 

Gw pada akhirnya lega, karena gw punya ‘courage to defend’. ‘Defend’ bukan dalam artian membela teman-teman gw yang memiliki ras tiongkok, tapi lebih ke ‘defend’ cara pandang gw dalam melihat sesuatu kepada orang tua gw. Sayang banget kalau gw sekolah jauh-jauh dan tinggi-tinggi sampai sarjana tapi ujung-ujungya masih berpegang pada cara pikir yang dangkal.

 

 

Ada yang punya pengalaman soal ras-ras kayak gw? (Gw terlalu sering ngetik ras, berasa kayak lagi ngebahas unggas…. -___- )

Atau ada yang punya pengalaman berbeda pandangan denga orang tua?

Share dong… 😀

 

What will do in 2016

O My God, is this the time to make a new resolutions?

-__-

I bet, it is, walaupun masih sedih liat resolusi tahun kemarin hancur lebur berantakan. Yaaah, tapi lumayan lah buat percobaan pertama. Tahun-tahun sebelumnya malah mengalir aja kayak air comberan (*Lah?).

 

Beberapa resolusi tahun 2016 kayaknya masih ada perpanjangan dari resolusi tahun 2015 yang belum kelar (Tsk!). Tapi kayaknya resolusi tahun ini mau ‘lebih ramping’ aja deh. Jadi, hal-hal yang kayaknya gak mungkin tercapai di tahun ini, mending dipendam aja. Eh, tapi kalau gak ‘dipaksa’ gak akan tercapai terus dong? (*kemudian bimbang).

 

1.Start a new job

Tahun ini harus udah dapat kerja, atau paling ngga, magang di mana dulu gitu deh. Males juga harus minta terus ke orang tua. Kangen menghabiskan uang sendiri kayak 2 tahun sebelumnya (*Laah… niatnya aja udah jelek gini). Harusnya mulai pertengahan tahun sudah bisa mulai gerilya cari kerja sih, atau malah lanjut kursus lagi ya? (*kemudian bimbang). -__-

Duh, harus cepet-cepet ada keputusan deh ini…

 

2.Improve French

Sebenarnya tahun 2015 kemarin udah agak lumayan sih, walaupun ada 1-2 bulan yang missed dari target. Si ayah udah bolak-balik nawarin ambil kursus aja, tapi masih bingung udah waktunya atau belum (*Duh! kebanyakan bimbangnya), plus biaya kursusnya juga mahal banget.

Kayaknya banyak keputusan-keputusan penting tahun ini yang harus diambil di detik-detik terakhir deh, karena semuanya harus liat situasi, kondisi dan kesempatan yang ada.

 

3.Starting some spanish

Resolusi ini harusnya udah on the way tahun 2015 kemarin, namun karena kebanyakan bimbang milih mau belajar Spanyol apa Italia, jadinya dua-duanya gak ada yang dipelajarin sama sekali. Kayaknya tahun ini udah fixed mau mulai Spanyol aja deh, soalnya banyak yang pakai, biar gak useless. Kemarin kepikiran mau belajar Italia karena bahasanya yang syahdu banget di telinga, hhahahaha….. Ntar deh, kalau ada waktu dan kesempatan.

 

4.Blogging and Blogwalking

Tahun lalu, diawal-awal masih rajin-rajin aja sih, semoga tahun ini gak cuma rajin di awal-awal doang. Oiya, tahun ini mau coba sering-sering blogwalking dan meninggalkan jejak deh di blog orang, siapa tau bisa nambah temen. Sebelumnya, masih doyan jadi silent reader aja soalnya.

 

5.Khatam Quran Twice

Di akhir tahun 2015 udah dapat juz-juz akhir karena rutin dapat 2 juz tiap bulan, walaupun sambil ngos-ngosan, hhahahahha…. Tahun ini mau pasang target 3 juz per bulan. Harusnya sih gak sulit, karena waktunya ada terus, niatnya aja yang lenyap entah kemana. Semoga tercapai. Amiiinn…

 

6. More Quran Verses

Ini juga resolusi perpanjangan dari tahun sebelumnya. Untuk ngedapetin 2 surah baru per bulan aja syusahhnnyaaa mintaa ampun. Eh, bukan ‘susah’ ding, lebih ke ‘males’ aja kayaknya.

 

7. Starting Some Sunnah prayers

Ini resolusi baru sih. Tahun 2015 kemarin Alhamdulillah bolong-bolongnya solat wajib udah semakin berkurang, karena sekarang ‘agak rajin’ subuh-an. Sebelum-sebelumnya, masalah emang ada di subuh sih.

Tahun ini mau coba belajar solat sunnah deh. Ada solat sunnah (solat dhuha) yang harus hapal surah-surah tertentu, dan ini balik lagi ke poin nomor 6. Ada juga solat tahajjud, solat sunnah sebelum-sesudah solat wajib, dll. Ntar mau coba baca-baca lagi deh.

 

8.Starting A Workout Routine

O My God, I don’t know if I can or I want to  do this or not. Bayanginnya aja udah males banget.

CWHNn2bU4AAxLwc

Sebenarnya, sejauh ini gak ada masalah sama berat badan (*denial garis keras), tapi gak ada salahnya kayaknya untuk coba gaya hidup sehat.

Semejak di Jakarta juga jarang banget jogging. Ini kebetulan dapat gerakan-gerakan sederhana yang bisa dilakukan di kamar aja. Trus, emang ‘gini doang’ cukup? Untuk ngedapetin ‘gini doang’ yang rutin kayaknya juga udah bikin berdarah-darah ya. We’ll see…

 

 

 

Well…. That’s it..

We’ll see how it goes…

Hope i won’t fail it, karena udah ‘diramping-rampingin’ gini resolusinya.

-___-

 

2015 Highlights

Well…

Here we go again…

Changing calendar….

😥

 

Agak-agak insecure ya sekarang,  karena kayaknya makin lama berasa banget nambah tua nya… Hhahahahaha…

2015 sendiri tahun yang cukup ‘menarik’ sih, secara pribadi. Ada beberapa hal penting yang kayaknya membekas banget.

1.Resignation and a new path

Bulan Juli akhirnya memutuskan untuk resign, dan pindah ke Jakarta untuk mengejar apa yang harusnya dikejar sejak dulu. I’m excited, of course, but sometimes still feel scared of what will happen next. Sampai sekarang semuanya masih meraba-raba, masih membaca situasi dan berusaha untuk fokus. I just need to remind myself that this is a long journey that need passion, determination and hardwork. I need to be patient about everything.

 

2.Losing Grandfather

Tanggal 15 september dapet kabar duka dari Medan kalau Atok (baca: kakek) udah meninggal. (Omg, i’m about to cry). Sebelumnya Atok udah sakit-sakitan juga sih, pas lebaran, malah dirawat di rumah sakit. Katanya sih ada masalah di kerongkongannya, jadi makanan susah masuk gitu, tapi penyebab pastinya gak paham juga.

Sebenarnya, Atok dari ayah dan mamak sudah lama berpulang, sekarang hanya ada nenek dari ayah. Atok yang baru meninggal kemarin sebenarnya adik dari atok dari mamak. Hubungannya lumayan dekat, karena kalau main ke Medan, biasanya mampir ke rumah atok.

Atok dan nenek ini orangnya baik banget, dan keliatan banget sayang satu sama lain sampai usia yang udah gak muda lagi, sayang anak dan cucu, bahkan perhatian sama keluarga kami yang notabene bukan keluarga dekat. Waktu dapet sms dari ayah (apa telpon ya?), sempat shock juga, kemudian nelpon ayah balik sambil nangis-nangis dan dengan hampir gak bisa ngomong.

Yang kepikiran pas dengar berita ini adalah gimana kabarnya nenek. Selama ini mereka biasa hidup berdua, saling perhatian satu-sama lain, bangun dan tidur saling melihat wajah masing-masing. OMG, this is so heartbreaking, i know they love each other so much, i have no idea what life’s gonna be without each other.  😦

So, this is life, even though you find your love one, you have to prepare yourself getting hurt by leaving each other alone by death.

 

3.Become uncle (well, not until 2016 anyway)

Di akhir tahun dapat kabar menggembirakan karena kakak ipar akhirnya hamil. Perjuangan banget untuk punya momongan memang. Tapi, alhamdulillah diberi kepercayaan juga. I know they have been waiting this forever. Semoga segala urusannya lancar dan diberi kemudahan dan kesehatan sampai lahiran. Aminnn…. 🙂

 

 

Well, btw, highlight gw kok dikit banget gini yaa??

Hhahahahaha….. Ntar, kalau ada inget lagi, buat chapter 2 nya deh…

Satu setengah jam lagi tahun baru..

Semoga tahun depan bisa lebih keliatan new path-nya..

Semoga selalu diberi kesehatan dan keselematan untuk sekeluarga…

Amiiinnn….